Occupational Therapy berasal dari kata occupational yang artinya aktivitas dan therapy berarti penyembuhan atau pemulihan, sehingga occupational therapy adalah proses penyembuhan melalui aktivitas. Aktivitas yang dikerjakan tidak hanya sekedar membuat sibuk pasien, melainkan aktivitas fungsional yang mengandung efek terapetik dan bermanfaat bagi pasien atau dalam artian aktivitas yang langsung diaplikasikan dalam kehidupan.

Secara garis besar, Okupasi Terapi adalah profesi kesehatan yang bertujuan meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahteraan melalui aktivitas. Tujuan utama Okupasi Terapi adalah memungkinkan individu untuk berperan serta dalam aktivitas keseharian. Dalam memberikan pelayanan kepada individu, Okupasi Terapi memerhatikan aset (kemampuan/ potensi) dan limitasi (keterbatasan/ “kecacatan”) yang dimiliki individu, dengan memberikan aktivitas yang purposeful (bertujuan), meaningful (bermakna), dan disenangi, misal: hobi agar pasien merasa senang dan nyaman selama melakukan terapi. Diharapkan individu tersebut dapat mencapai kemandirian dalam aktivitas produktivitas/pekerjaan atau pendidikan (seperti bekerja), kemampuan perawatan diri/selfcare (seperti: menyikat gigi, mandi, BAB/BAK, dll), dan kemampuan penggunaan waktu luang/leisure (melakukan hobi seperti berkebun, menjahit, menyulam, dll).

Okupasi Terapi juga dapat dikatakan sebagai terapi yang menggunakan aktivitas kehidupan sehari-hari sebagai media terapinya (misal latihan repetitif meremas bola untuk menambah kekuatan dan massa otot, latihan memindahkan Cone untuk menambah luas Lingkup Gerak Sendi). Bukan hanya secara fisik dan mental pasien yang diterapi, Okupasi Terapi juga menganalisis lingkungan (arsitektur dan letak furnitur rumah, lingkungan sosial, lingkungan kerja, dll) apakah berbahaya dan rentan menyebabkan kecelakaan: lantai kamar mandi licin akibatnya saat mandi pasien bisa terjatuh sehingga akan dimodifikasi agar lebih aman terhadap pasien. Okupasi Terapi juga mengedukasi tentang langkah promotif, preventif, rehabilitatif, dan sebagainya kepada pasien dan keluarga, serta masyarakat.

Lalu, kondisi apa saja yang bisa ditangani oleh Okupasi Terapis? Pasien yang bisa dirujuk ke Okupasi Terapis tidak terbatas pada tahap perkembangan tertentu melainkan semua umur bisa dirujuk untuk mendapatkan penanganan Okupasi Terapi. Sebagai contoh: pasien anak-anak. Banyak anak yang sejak kecil sudah mengalami kelainan atau gangguan perilaku/perkembangan. Sebagai contoh: autisme, spektrum autis, ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder), ADD (Attention Deficit Disorder), DD (Delay Development/keterlambatan perkembangan), asperger syndrome, Down syndrome, mental retardasi (keterbelakangan mental), CP (Cerebral Palsy), dan sebagainya. Itu semua adalah sebagian besar dari kondisi anak yang bisa ditangani oleh Okupasi Terapis.

Penjelasan selengkapnya silakan klik link ===> BERIKUT INI

 

Jangan lupa membaca definisi anak berkebutuhan khusus DI SINI

Leave Your Reply