Gaya memberi hukuman kepada anak seringkali menjadi pro dan kontra dalam keluarga. Ada pihak yang maunya tegas disertai tindakan fisik (memukul, menyuruh berlari, dll). Ada juga pihak yang mau tegas tapi ujung-ujungnya menyerah dengan kemauan anak. Orang tua termasuk kakek nenek yang terkadang terlibat dalam parenting kebanyakan jadi berdebat ketika melihat anak menangis akibat diberi hukuman atau indisipliner yang kelihatannya membuat anak tersiksa.
Orang tua perlu mengetahui dulu bedanya hukuman yang bersifat mendisiplin agar tidak keliru menerapkan hukuman. Perlu disadari bentuk hukuman yang tidak tepat tidak akan berdampak apapun dengan perubahan perilaku.
Jadi hukuman yang bersifat mendisiplin mencakup point-point berikut :
1. Dilakukan dengan konsisten sampai terjadi perubahan.
2. Anak sadar konsekuensinya bila kesalahan itu terulang sehingga berusaha agar mengikuti aturan.
3. Hukuman fisik kelihatannya memang tegas tetapi sayangnya efeknya hanya berdampak sesaat. Anak lebih suka dipukul karena sakitnya hanya sebentar daripada harus diberi ‘treatment atau terapi’ khusus agar anak memperbaiki kesalahannya.
Biasanya anak akan terlihat tersiksa ketika diminta untuk makan sayur tanpa dilepeh (kalau dilepeh akan dikasih lagi sampai tidak dilepeh), membersihkan kamar, mengikuti jadwal harian, main game hanya 2 jam, dll. Namun bentuk disiplin yang terlihat menyiksa ini (biasanya anak jadi ngamuk kan), efeknya akan lebih dirasakan dan mengubah prilaku anak.
Memahami bentuk disiplin yang tepat diharapkan harus menjadi tujuan dari semua anggota keluarga (ortu plus pengasuh, atau kakek nenek yang juga ikut mengasuh). Memahami tujuan ini akan membuat ortu (dan pengasuh lain) kompak dan satu bahasa di depan anak sehingga anak tak dapat berkelit mencari pembelaan dengan salah satu anggota keluarga yang ‘kasihan’ padanya. Bila ortu tahu tujuan dari bentuk hukuman yang mendidik maka ortu akan TETAP TEGAS dan fokus pada HASIL PERUBAHAN ANAK, serta tidak mudah digoyahkan dengan tangisan, amukan, pemberontakan, dan rayuan anak yang menghindari konsekuensi yang harus ditanggung. Ingat hukuman mendidik adalah untuk kebaikan masa depan anak bukan hanya pukulan yang berdampak sesaat.
Info parenting dan terapi anak lainnya dapat dibaca di pelangiinsani.com

Leave Your Reply